Rabu, 23 Maret 2016

Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat

Nurma Oktavia
18514232
2PA07
Kesehatan Mental
BAB I
PENDAHULUAN
            Dewasa ini semakin banyak keadaan mental yang sangat perlu perhatian khusus seperti sehat mental, mental tak sehat, dan sakit mental. Sehat mental dapat diartikan sebagai kondisi mental yang berkembang yang di dasari oleh motivasi yang kuat untuk meraih kualitas diri yang lebih baik dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat. Mental tak sehat dapat diartikan seseorang yang memiliki potensi/kemampuan tetapi tidak punya keinganan atau usaha untuk mengaktulisasikan dirinya.sedangkan sakit mental yaitu dimana seseorang memiliki banyak  unsur yang bertentangan dalam dirinya yang menghambat/merusak,sehingga membuat perilakunya tak menentu.
            Sebenarnya cukup sulit untuk merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan normal dan abnormal tentang perilaku. Pertama,sulit menemukan model manusia yang ideal atau sempurna. Kedua,dalam banyak kasus,tak ada batas yang jelas antara perilaku normal dan abnormal.maksudnya orang yang secara umum dipandang normal sehat-pun suatu saat dapat melakukan perbuatan yang tergolong abnormal,mungkin di luar kesadaranya.begitupun sebaliknya,tidak jarang orang yang secara umum jelas-jelas abnormal melakukan perbuataan atau perkataan yang sungguh normal. Sangat diperlukan sejumlah patokan atau ukuran untuk membedakan dengan jelas normal dan abnormal.
            Serta terdapat perbedaan abnormal itu sendiri dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain,dan dari waktu ke waktu dalam kebudayaan yang sama. Tingkah laku abnormal adalah tingkah laku yang maladatif dan berbahaya. Tingkah laku seperti ini tidak mampu mendukung kesejahteraan,perkembangan,dan pemenuhan masa remaja,dan juga pada akhirnya,orang lain. Tingkah laku maladatif memiliki berbagai bentuk seperti bunuh diri,mengalami depresi,memiliki keyakinan yang aneh dan tidak rasional,menyerang orang lain dan bergantung pada obat-obat terlarang.  
            Perilaku abnormal dan sakit mental sering disalahartikan oleh masyarakat yang belum paham.masyarakat cenderung menilai negatif orang yang mengalami perilaku abnormal.bahkan menjauhi orang-orang yang dianggap abnormal hanya karena mereka dianggap berbeda dari orang normal. Padahal yang mereka butuhkan adalah dukungan dari orang-orang terdekat dan lingkungan. Kurang pengetahuan inilah yang membuat masyarakat sering kali mengsalahartikan perilaku abnormal itu sendiri.  



BAB II
TEORI
Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.
Menurut Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.
Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009), dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”.
Normal Menurut Stern (1964)
Stren mengusulkan untuk memperhatikan 4 aspek untuk menilai normal/tidaknya seseorang,yaitu :
1.      Daya integrasi
Fungsi ego dalam mempersatukan,mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi suatu perilaku atau pemikiran,makin baik.
2.      Ada tidaknya simtom gangguan
Pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif.
3.      Kriteria Psikoanalisis
Memperhatikan dua hal yang digunakan sebagai patokan dari kesehatan jiwa yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual.
4.      Determinan sosio-kultural
Lingkungan sering kali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.
Normal Menurut Ulmann dan Krasner (1980)
            Menurut Ulmann dan Krasner tingkah laku manusia tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai normal atau abnormal,tetapi harus dilihiat dalam hubungannya dengan suatu prinsip,dimana suatu tingkah laku merupakan hasil dari keadaan masa lalu dan masa kini. Ia mengemukakan kesulitan-kesulitan mendefinisikan abnormalitas secara static,medis,dan psikoanalitis serta sosiokultural terhadap abnormalitas,ada pula definisi legal (hukum) tentang abnormalitas. Definisi ini menghubungkan tingkah laku dengan kompetensi,tanggung jawab atas perbuatan criminal serta komitmen. Definisi ini digunakan untuk menentukan apakah seseorang sudah harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa,penjara,institusi khusus atau tidak.

Normal Menurut Gladstone (1978)
Ia mengusulkan untuk menilai 7 aspek yang merupakah tingkah laku penyesuian diri,yaitu :
1.      Ketegangan
2.      Suasana Hati
3.      Pemikiran
4.      Kegiatan (aktivitas)
5.      Organisasi Diri
6.      Hubungan Antarmanusia
7.      Keadaan Fisik
Gladstone membaginya ke dalam 5 tingkatan,yaitu :
1.      Penyesuain diri yang normal
2.      Penyesuain darurat
3.      Penyesuaian neurotic
4.      Kepribadian/Karakter neurotic
5.      Gangguan nafas

BAB III
ANALISIS
Contoh kasus 1 :
Liputan6.com, Jakarta Dunia hiburan sempat dibikin gempar dengan munculnya pemberitaan tentang Marshanda yang ditempatkan di ruang isolasi oleh ibu kandungnya, Rianty Sofyan, pada Agustus 2014. Tindakan itu dilakukan Rianty lantaran anak perempuannya mengalami gangguan jiwa bipolar.
Tidak mudah untuk mengetahui apakah Marshanda benar mengalami gangguan bipolar atau tidak. Kala itu, psikolog sekelas Rose Mini pun tidak berani berpendapat. Sebab, seorang psikolog tidak bisa langsung mengklaim seseorang yang diperkirakan mengalami gangguan jiwa sebagai bipolar. Apalagi bila hanya dengan melihat tingkah orang tersebut melalui YouTube dan mendengarkan potongan cerita yang dikumpulkan.
Namun, pada akhirnya berita itu terungkap juga kebenarannya. Marshanda memang mengalami bipolar. Setelah berselang satu tahun, saat disinggung masalah bipolar tersebut, Marshanda pun memberikan jawabannya.
Menurut dia, bipolar bukanlah gangguan jiwa yang membuat seseorang tiba-tiba berteriak-teriak. Bipolar terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormon. Marshanda mengaku senang bisa membuka semua itu kepada publik.
"Orang bipolar itu memang terlihat biasa saja. Orang-orang melihat apa yang kami alami itu sama, tapi kami yang mengalaminya tidak seperti itu," kata Marshanda yang mengibaratkan hidupnya seperti roller coaster dalam program Dear Haters, ditulis Sabtu (26/12/2015).
Pembahasan :
      Dari kasus di atas,kita dapat mengetahui bahwa Marshanda mengidap Bipolar Disorder 2 yaitu jenis gangguan kejiwaan/psikologis yang ditandai dengan perubahaan mood (alam perasaan) yang sangat ekstrim yang ditentukan oleh pola dari episode-episode depresi namun bukan sepenuhnya episode-episode manic atau campuran. Istilah ini mengacu pada suasana hati yang dapat berganti secara tiba-tiba dan sangat bertolak belakang seperti dua kutub (bi-polar) berlawanan, yaitu positif yang berupa rasa bahagia (hipomania/ mania) dan negatif berupa rasa sedih (depresi) yang berlebihan. Asumsi ini di perkuat dengan adanya video-video Marshanda yang memperlihatkan perubahaan mood yang sangat cepat serta adanya fakta bahwa Marshanda harus minum sejumlah obat untuk mengurangi tingkat gangguan mood-nya agar gejala tidak kambuh.
      Marshanda mengakui bahwa saat sd,dia merasa dikucilkan oleh teman-temannya. Ketika keluarga seharusnya menjadi dukungan bagi Marshanda yang merasa dikucilkan dalam pergaulan. Di saat itu Marshanda mendapatkan berita bahwa kedua orang tuanya.saat itu usia Marshanda masih 7 tahun.Bahkan Marshanda sempat menuangkan rasa rindunya ke papanya lewat sebuah lagu yang diciptakannya. Masalah-masalahnya menjadi pemicu gangguan mood ini. Bertahun-tahun dipendam emosi Marshanda meledak juga hingga akhirnya Marshanda mengunggah video yang menghebohkan public pada tahun 2009.Marshanda mengakui bahwa ia mengupload videonya dengan sengaja.
      Episode pertama bisa timbul mulai dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita gangguan bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi. Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap gangguan bipolar.
      Sehingga tidak heran saat video-video nya Marshanda kita dapat melihat macam-macam ekspresi yang ditunjukan oleh Marshanda.karena hal itu merupakan refleksi dari pola-pola episode depresi yang dialami Marshanda. Ketika masa-masa sulit pada episode ini terlewati, penderita akan kembali ke kehidupan normalnya. Para penderita Bipolar seperti Marshanda tidak hanya membutuhkan obat-obatan dan pengobatan intensif, namun juga dukungan moral dari keluarga.




Contoh Kasus 2 :
Liputan6.com, Denpasar - Angeline, bocah berusia 8 tahun yang hilang sejak 16 Mei 2015 ditemukan dikubur di halaman belakang rumah ibu angkatnya, Margriet Megawe di Jalan Sedap Malam No 26 Sanur, Denpasar, Bali pada Rabu 10 Juni. Dalam kasus pembunuhan tersebut, Margriet dan 2 kakak angkat Angeline diperiksa polisi. Dan, mantan satpam rumah ibu angkatnya, Agus ditetapkan sebagai tersangka.

Ibu angkat Angeline, Margriet Megawe juga dites kejiwaan oleh psikiater yang ditunjuk Polresta Denpasar yaitu Lely Setyawaty pada hari ini, Kamis (11/6/2015). Hasilnya, Margriet Magawe merupakan psikopat, seseorang yang karena kelainan jiwa menunjukkan perilaku yang menyimpang.
"Ibu Margriet terbukti seorang psikopat. Keterangan lengkapnya biar pihak kepolisian yang menyampaikan ya," kata Lely saat dihubungi Liputan6.com di Denpasar. 

Dari informasi yang dihimpun dari guru-guru dan para tetangga, semasa hidupnya Angeline sering bekerja memberi makan 50 ekor ayam peliharaan ibu angkatnya dan selalu berjalan kaki sejauh 2 km menuju dan pulang sekolah. Dia juga melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak seusianya. 

Angeline dilaporkan hilang pada 16 Mei 2015 oleh ibu angkatnya, Margriet Megawe. Bocah cantik berusia 8 tahun itu kemudian ditemukan tewas pada Rabu 10 Juni di belakang rumah, terkubur di dekat kandang ayam.

Hasil autopsi pada tubuh bocah kelas 2 SD itu ditemukan banyak luka lebam di daerah pinggang ke bawah. Ada juga luka lebam di dada samping kanan, leher samping kanan, dahi samping kanan, pelipis kanan, dahi samping kiri, batang hidung, pipi kiri atas, pipi kiri bawah telinga, leher samping kanan dan leher kanan atas bahu.
Pembahasan :
      Psikopat adalah perilaku psikologis dimana pelaku terus menerus mencari gratifikasi (pembenaran diri) atas tindakan-tindakan keliru yang dilakukannya. Seorang psikopat tidak memiliki kemampuan untuk mengenali dan belajar dari kesalahan. Namun dia memiliki daya analisa yang tinggi dan seringkali tergolong orang yang sangat cerdas.
      Dalam teori perkembangan psikoanalisis (Sigmund Freud) mengatakan bahwa kesadaran memiliki tiga tingkat kesadaran yaitu sadar (conscious),prasadar (preconscious) dan tak sadar (unconscious). Conscious adalah tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu,Preconscious adalah tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antar sadar dan tak sadar,dan Unconscious adalah bagian paling dalam dari kesadaran dan bagian terpenting dari jiwa manusia.
      Dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud,kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur dan sistem,yaitu Id,Ego,dan Superego. Id merupakan sistem kepribadian yang ada sejak lahir berkaitan dengan dorongan-dorangan biologis manusia,Ego merupakan jembatan antara Id dan Superego berperan dalam mengambil keputusan.Superego berkaitan dengan norma-norma.
      Dalam kasus pembuhan Angeline ini,ibu angkatnya yang dinyatakan sebagai pelaku mempunyai kepribadian psikopat yang berarti kelainan kepribadian yang sejak dulu dianggap berbahaya dan mengganggu masyarakat. Namun orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian psikopat terlihat normal dan memiliki perilaku yang baik dan disukai orang dilihat secara sepintas.
      Penyakit psikopat berbeda dengan penyakit mental lainnya karena psikopat sadar sepenuhnya atas perbuataanya tanpa meras penyesalan.Orang memiliki penyakit psikopat disebabkan dari beberapa factor yaitu seperti kelainan pada otak,gen yang diturunkan orang tua,lingkungan dan pola asuh keluarga.seseorang mengalami psikopat karena ego tidak dapat menengahi id dan superego sehingga terkena dengan pleasure principle dan superego tidak sanggup melakukan control terhadap aktivitas dari ego.
      Dalam kasus diatas ibu angkat angeline terlihat seperti orang normal lainnya tetapi setelah dilakukan pemeriksan psikologis terbukti memiliki penyakit mental psikopat.ha  hal itu bisa karena kelainan pada otak,gen yang diturunkan orang tua,lingkungan dan pola asuh keluarga.serta ketidakmampuan mengontrol id. Psikopat perlu penanganan khusus serta dukungan moral dari keluarga dan lingkungan sekitar dan perlu di deteksi sedini mungkin sehingga dapat diatasi sedini mungkin.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Slamet, Suprapti. Markam, Sumarmo. 2008. Psikologi Klinis. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
Supratiknya,A. 1999. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius